THE TRANSFORMATION OF SPACE AND PRACTICE OF BALINESE WOMEN’S BEAUTY IN THE GLOBALIZATION ERA IN DENPASAR CITY

Pic Wiasti 2019 Transformation of space.png
Title of article (Indonesian)
Transformasi Ruang dan Praktek Kecantikan Wanita Bali di Era Globalisasi di Kota Denpasar
Title of article (Makassar)
-
Original title language
English
Title (other local language)
Author(s)
  • Ni Made Wiasti
Subjects
  • transformation
  • space
  • practice
  • globliazation
  • beauty
Title of Journal
Proceeding - International Seminar Culture Change and Sustainable Development in Multidisciplinary Approach: Education, Environment, Art, Politic, Economic, Law, and Tourism, July 9th, 2018
Volume and Issue number
1
Date of Publication
2019/09/11
Page Numbers
19-23
Link to whole article
https://ojs.unud.ac.id/index.php/iccs/article/view/52967
Related Places
    Related Holidays
      Related Books
        Related Lontar


          You are not allowed to post comments.

          Abstract


          In English

          Globalization becomes a marker of a new era that new “fever” has emerged. No one can resist or refuse this new “fever.” A truly new world or just a new engineering is not so important because the “new” diction becomes an ideology that globalization brings. This means that many socio-cultural structures in the societal life have changed from radical, fast, instant, or evaluative, slow and thoughtful condition. No exception for the body also experienced globalization transplantation. Women experience aesthetical changes through the construction process of space and practice of beauty. Similarly, men do not miss the style that is increasingly difficult to be distinguished between one place and another. The construction of Balinese women’s beauty in today’s era of globalization refers not only to the socio-cultural aspects of Balinese society (local culture) but also to the market-oriented which is strongly influenced by the media. The simple and very private space and beauty practices now come with high technology and very publicly can meet the desire of Balinese women to obtain beauty in accordance with the ones presented in various media. There are three interesting points to be examined in this paper. Firstly is the changing space and practice of beauty. Formerly, the beauty-oriented practice of the royal family belonged to the tri-caste group, but it is now very capitalistic and full of imagery. Secondly, the beauty products are increasingly complex. In the beginning, the forms of women’s appearance or beauty products were recognized through fashion or the fashion in use and limited only to certain moments, but now Balinese women have enough courage to look expressive in everyday life. Thirdly is the Beauty Service Model. Beauty services, such as beauty salons, beauty clinics, fitness centers, and other body care establishments continue to improve, both in terms of number and variety of the services provided.

          In Indonesian

          Globalisasi menjadi penanda era baru dimana “demam” baru telah muncul. Tidak ada yang dapat menolak kehadiran “demam” dimaksud. Dunia yang benar-benar baru ataupun sekadar rekayasa baru tidaklah begitu penting karena diksi “baru” menjadi sebuah ideologi yang dibawa oleh globalisasi. Ini artinya terdapat banyak struktur sosio-kultular dalam kehidupan sosial yang telah berubah dari radikal, cepat, atau evaluatif, lambat dan penuh pertimbangan. Tanpa terkecuali terhadap jasmani yang juga mengalami transplantasi globalisasi. Wanita mengalami perubahan estika lewat proses konstruksi ruang dan praktek kecantikan. Demikian pula bagi laki-laki yang tidak dapat melewatkan sebuah tren baru yang semakin sulit untuk dibedakan antara satu tempat dengan yang lainnya. Konstruksi kecantikan wanita Bali di masa globalisasi kini mengacu kepada tidak hanya aspek sosio budaya masayarakat Bali (termasuk budaya lokal) namun juga orientasi pasar yang banyak dipengaruhi oleh media. Ruang dan praktik kecantikan sederhana dan sangat privat saat ini telah dilengkapi dengan teknologi tinggi dan secara umum dapat memenuhi harapan perempuan Bali untuk mencapai standar kecantikan seperti yang ditampilkan di berbagai media. Ada tiga hal menarik yang akan diulas dalam paper ini. Pertama, perubahan ruang dan praktik kecantikan. Dulu, praktik kecantikan berorientasi pada keluarga kerajaan termasuk pola kelompok tri-kasta, sekarang, menjadi sangat kapitalistis dan penuh dengan pencitraan. Kedua, produk kecantikan semakin kompleks. Pada awalnya, aspek kecantikan dan produk kecantikan wanita hanya dapat diketahui secara terbatas atau fesyen yang digunakan hanya untuk momen tertentu saja, namun kini, wanita Bali memiliki keberanian yang cukup untuk tampil lebih ekspresif dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, model layanan kecantikan. Layanan kecantikan, seperti salon, klinik kecantikan, pusat kebugaran, dan tempat perawatan tubuh lainnya terus mengalami peningkatan baik dari segi jumlah maupun ragam layanan yang yang diberikan.

          In Makassar