Literature PENGUNGSI ANTARA BENCANA DAN RENCANA

From BASAsulselWiki
20220520T013703144Z927054.jpeg
0
Vote
Photo source
seruji
Author(s)
Reference
Competition
Pengungsia


Add your comment
BASAsulselWiki welcomes all comments. If you do not want to be anonymous, register or log in. It is free.

What would you do with the refugees coming to your place from conflict-prone areas, such as with what's currently happening in Ukraine?

Description


In English

In Indonesian

Realitas miris yang sering terjadi di kolong langit ini bahwa ada saja seseorang atau sekelompok orang

terpaksa meninggalkan wilayahnya untuk menghindar dari bencana atau bahaya yang sudah, sedang atau yang akan menimpah. Tentunya cuma satu tujuannya yakni mendapatkan keamanan dan kenyamanan dalam hidup. Sebuah pertanyaan eksistensial yang boleh kita lontarkan: Apakah para pengungsi menghendakinya? Jawabannya bisa “ya”, bisa juga “tidak”. Pengungsi: Membaca Teks dari Konteks Mendengar kata “pengungsi” umumnya setiap insan berkiblat pada satu opini yang negatif, misalnya: para pengungsi mengalami tekanan mental, kekurangan sandang, pangan dan papan, kesehatan dan pendidikan tak menentu, bahkan mungkin saja bayang-bayang kematian terasa semakin ikhlas berpasrah. Deretan sendu yang sering lebih menggaung dari kemah-kemah darurat adalah perempuan dan anak-anak. Pilu akan semakin membara manakala sendengan telinga terfokus pada elegi para pasien dan jompoh. Namun di sisi lain, bagai koin bermuka dua, ada juga para antagonis mempertontonkan realita yang berbeda, berbaju pengungsi, berjubah raja. Mereka malah lebih leluasa dan bersorak sorai di negara atau daerah lain yang banyak klausurnya. Delik yang lebih tenar untuk kalangan ini adalah “Suaka”, karena tanpanya hidup mereka adalah kematian dan kematian mereka adalah konyol. Oleh karena itu, jelihlah kita menilai pengungsi berdasarkan konteksnya agar tidak terjebak dalam sense yang keliru lalu menaruh hati pada tempat yang salah. Pengungsi: Bencana atau Rencana? Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa rintihan kemah-kemah reyot adalah korban bencana yang tidak direncanakan akibat alam atau juga ulah manusia seperti peperangan. Sementara itu bagi yang menyanyi dengan tarian gembira di hotel berbintang atau apartemen pencakar langit adalah hasil rencana seperti koruptor atau pengganggu kamtibmas. Penulis tidak mencampuradukan dengan pencari suaka dari para pejuang keadilan karena berbeda konteks. Para pejuang keadilan terpaksa bersuaka di luar kemauan dan rencananya karena keamanan dan kenyamanan hidup pribadinya diobok-obok. Pengungsi: Sesungguhnya, Siapakah Dia? Penulis tidak sedang beretimologi dengan term pengungsi. Pada bagian ini, penulis hanya mau bergelut dengan para korban bencana yang ternyata adalah sesama manusia. Andaikan saja kita keluar dari zona aman dan terlibat langsung dengan pengungsi, kita akan mengetahui dan merasakan apa artinya “hidup enggan mati tak mau”. Kita masuk dalam suasana sulit yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu. Sebaliknya, kalau kita enggan keluar dari titik aman, keterpanggilan kita sebagai insan di dunia ini dipertanyakan. Siapakah pengungsi di mata kita sampai kehadiran mereka tidak digubris? Seirama dengan filosofi usang yang mengibaratkan hidup manusia bagai roda yang sedang berputar, membenarkan pepatah Latin Hodie mihi, cras tibi (hari ini saya, besok anda) menegaskan bahwa apa yang diperbuat, itu pula yang akan dirasakan. Pengungsi adalah mereka yang tak berdaya menghadapi ancaman hidup sehingga sebagai sesama manusia sepatutnya kita memberikan apa yang mampu kita berikan guna meringankan beban hidup mereka.

Bukankah bencana mereka akan menjadi berkah untuk kita, jika kita turut meringankan penderitaan sesama? Kita seharusnya menyadari bahwa hidup itu anugerah sekaligus tanggung jawab (gabe und aufgabe). Bencana akan menjadi berkah jika diindahkan, sebaliknya berkah akan menjadi bencan kalau disia-siakan. Inilah master plan (rencana agung) Sang Pencipta.***

In Makassar




[[Question all::MediaWiki:ActiveWikithonQuestion/ban| ]]