From Stigma to Empathy: Reimagining the View of Mental Health
This is a Response to the Kesehatan wikithon
Kesehatan mental itu penting ki untuk dukung orang dalam maksimalkan potensinya. Tapi sayangnya masih banyak masyarakat yang anggap ki masalah kesehatan mental itu kelemahannya orang. Anggapannya itu naciptakan ki pandangan-pandangan jelek yang bisa tutup matanya masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental untuk orang. Padahal kesehatan mental bukan ki kelemahan, tapi masalah yang sama ki pentingnya sama kesehatan fisik. "Lebaymu deh", " kurang bersyukur ko", atau "baru begitu nangismi", kata-kata ini sering ki didengar dari mulutnya orang lain bahkan dari orang terdekat ta saat coba ki ceritakan masalah kesehatan mental ta. Kata-kata negatif itu jadi alasannya orang malas dan malu akui kondisi psikologisnya dan justru naperparah ki masalah kesehatan mentalnya.
Datanya World Health Organization (WHO) natunjukkan ki data yang mengkhawatirkan, lebih 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Kalau di Indonesia, GoodStats napaparkan ki angka bunuh diri sepanjang Januari-Oktober 2024 nasentuh mi angka 1.023 kasus yang disebabkan karena faktor biologis, genetik, psikologis, budaya, dan lingkungan. Angka itu bukan ki sekedar angka statistik, tapi nawakilkan ribuan cerita pribadi yang butuh perhatian dari semua kalangan. Banyak ki cerita yang nda terungkap yang akhirnya terkubur ki sama pemiliknya. Jadi konselor sebaya itu termasuk ki langkah kecil yang berarti yang bisa diambil untuk cegah ki bertambah buruk masalah kesehatan mentalnya orang. Konselor sebaya nda harus dari jurusan atau latarbelakang konseling atau psikologi, tapi cukup ki jadi pendengar yang baik. Sederhana ji didengar, tapi mendengarkan orang dengan tulus dan penuh empati bisa buat ki orang nyaman bagi pikiran dan perasaannya tanpa takut untuk dihakimi. Dalam kondisi terpuruk ki, orang lain datang dengan tulus bilang "baik-baik jko?", " mauko cerita?" itu kaya nakasi setitik cahaya ditengah kegelapan. Dukungan-dukungan verbal atau non verbal yang dikasi ke orang bisa jadi alasannya orang untuk tetap ki bertangah ditengah banyaknya masalah.
Label buruk yang masih banyak tersebar di masyarakat nahalangi orang untuk sembuh dan pulih dari banyaknya permasalahan mentalnya. Penting sekali untuk kita sadar bilang berharga sekali kesehatan mental dan perluki ambil langkah-langkah pencegahan supaya label-label buruk di masyarakat itu bisa ki berkurang perlahan-lahan. Tindakan kecil sesederhana didengar orang dengan baik itu bisaki berperan untuk selamatkan nyawanya orang. Dengan jadi ki konselor sebaya, bisa ki berikan harapan baru untuk orang-orang yang berjuang dan bantu bangun lingkungan yang positif dan mendukung dalam kesehatan mental.
Sumber Gambar: KompasianaKesehatan mental itu penting ki untuk dukung orang dalam maksimalkan potensinya. Tapi sayangnya masih banyak masyarakat yang anggap ki masalah kesehatan mental itu kelemahannya orang. Anggapannya itu naciptakan ki pandangan-pandangan jelek yang bisa tutup matanya masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental untuk orang. Padahal kesehatan mental bukan ki kelemahan, tapi masalah yang sama ki pentingnya sama kesehatan fisik. "Lebaymu deh", " kurang bersyukur ko", atau "baru begitu nangismi", kata-kata ini sering ki didengar dari mulutnya orang lain bahkan dari orang terdekat ta saat coba ki ceritakan masalah kesehatan mental ta. Kata-kata negatif itu jadi alasannya orang malas dan malu akui kondisi psikologisnya dan justru naperparah ki masalah kesehatan mentalnya.
Datanya World Health Organization (WHO) natunjukkan ki data yang mengkhawatirkan, lebih 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Kalau di Indonesia, GoodStats napaparkan ki angka bunuh diri sepanjang Januari-Oktober 2024 nasentuh mi angka 1.023 kasus yang disebabkan karena faktor biologis, genetik, psikologis, budaya, dan lingkungan. Angka itu bukan ki sekedar angka statistik, tapi nawakilkan ribuan cerita pribadi yang butuh perhatian dari semua kalangan. Banyak ki cerita yang nda terungkap yang akhirnya terkubur ki sama pemiliknya. Jadi konselor sebaya itu termasuk ki langkah kecil yang berarti yang bisa diambil untuk cegah ki bertambah buruk masalah kesehatan mentalnya orang. Konselor sebaya nda harus dari jurusan atau latarbelakang konseling atau psikologi, tapi cukup ki jadi pendengar yang baik. Sederhana ji didengar, tapi mendengarkan orang dengan tulus dan penuh empati bisa buat ki orang nyaman bagi pikiran dan perasaannya tanpa takut untuk dihakimi. Dalam kondisi terpuruk ki, orang lain datang dengan tulus bilang "baik-baik jko?", " mauko cerita?" itu kaya nakasi setitik cahaya ditengah kegelapan. Dukungan-dukungan verbal atau non verbal yang dikasi ke orang bisa jadi alasannya orang untuk tetap ki bertangah ditengah banyaknya masalah.
Label buruk yang masih banyak tersebar di masyarakat nahalangi orang untuk sembuh dan pulih dari banyaknya permasalahan mentalnya. Penting sekali untuk kita sadar bilang berharga sekali kesehatan mental dan perluki ambil langkah-langkah pencegahan supaya label-label buruk di masyarakat itu bisa ki berkurang perlahan-lahan. Tindakan kecil sesederhana didengar orang dengan baik itu bisaki berperan untuk selamatkan nyawanya orang. Dengan jadi ki konselor sebaya, bisa ki berikan harapan baru untuk orang-orang yang berjuang dan bantu bangun lingkungan yang positif dan mendukung dalam kesehatan mental.
Sumber Gambar: KompasianaKesehatan mental menjadi hal yang penting untuk mendukung seseorang dalam mengoptimalkan kemampuan atau potensinya. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa masalah kesehatan mental merupakan bentuk kelemahan pribadi. Anggapan ini menciptakan stigma buruk yang dapat menutup mata masyarakat terkait pentingnya kesehatan mental bagi seseorang. Padahal kesehatan mental bukanlah suatu kelemahan, melainkan permasalahan yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. “Lebay banget sih”, “kamu kurang bersyukur”, atau “gitu aja nangis”, ungkapan yang masih sering kita dengar dari mulut orang lain bahkan orang terdekat, saat mencoba untuk mengungkapkan permasalahan kesehatan mental yang kita alami. Ungkapan negatif tersebut menjadi alasan kuat seseorang enggan dan merasa malu untuk mengakui kondisi psikologisnya dan justru memperparah masalah kesehatan mentalnya.
Data World Health Organization (WHO) menunjukkan data yang mengkhawatirkan, yakni lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, GoodStats memaparkan angka bunuh diri sepanjang Januari-Oktober 2024 menyentuh angka 1.023 kasus yang dilatarbelakangi oleh faktor biologis, genetik, psikologis, budaya, dan lingkungan. Angka tersebut bukan hanya sekedar angka statistik, melainkan mewakili ribuan cerita pribadi yang membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan. Banyak cerita tidak terungkap yang berakhir pada terkuburnya cerita tersebut bersama pemiliknya. Menjadi konselor sebaya merupakan langkah kecil penuh makna yang bisa kita lakukan untuk mencegah bertambah buruknya masalah kesehatan mental pada seseorang. Konselor sebaya tidak harus berasal dari latar belakang konseling atau psikologi, tapi cukup menjadi pendengar yang baik. Terdengar sederhana, namun mendengarkan dengan tulus dan penuh empati dapat membuat seseorang merasa nyaman untuk berbagi pikiran dan perasaan tanpa takut dihakimi. Dalam kondisi terpuruk, seseorang datang dengan tulus mengatakan “apakah kamu baik-baik saja?”, “mau cerita tidak?” seolah memberikan setitik cahaya ditengah kegelapan. Dukungan-dukungan verbal maupun non verbal yang diberikan dapat menjadi alasan seseorang untuk tetap bertahan diantara riuhnya permasalahan.
Stigma buruk yang masih bertebaran di masyarakat mengahalangi akses seseorang untuk pulih dari berbagai permasalahan kesehatan mental yang dialami. Penting bagi kita untuk menyadari betapa berharganya kesehatan mental dan mengambil tindakan-tindakan preventif agar stigma-stigma buruk pada masyarakat perlahan dapat terkikis. Tindakan kecil sesederhana mendengarkan dengan baik dapat berkontribusi dalam menyelamatkan nyawa seseorang. Dengan menjadi konselor sebaya, kita dapat memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang, serta membangun lingkungan yang lebih positif dan mendukung bagi kesehatan mental.
Sumber Gambar: KompasianaMental health is important to support a person in optimizing their abilities or potential. Unfortunately, there are still many people who think that mental health problems are a form of personal weakness. This assumption creates a bad stigma that can close people's eyes regarding the importance of mental health for a person. In fact, mental health is not a weakness, but a problem that is as important as physical health. "It's too much", "you're not grateful enough", or "you're just crying", are phrases that we still often hear from the mouths of others and even those closest to us, when trying to express the mental health problems we experience. These negative phrases become a strong reason for someone to be reluctant and feel ashamed to admit their psychological condition and actually exacerbate their mental health problems.
World Health Organization (WHO) data shows alarming data, namely more than 700,000 people die from suicide every year. In Indonesia alone, GoodStats explained that the suicide rate during January-- -October 2024 touched the figure of 1,023 cases with biological, genetic, psychological, cultural and environmental backgrounds. These are not just statistics, but represent thousands of personal stories that require attention from various groups. Many untold stories end up buried with their owners. Becoming a peer counselor is a small but meaningful step we can take to prevent mental health problems from worsening. Peer counselors do not have to come from a counseling or psychology background, but simply be good listener. It sounds simple, but listening sincerely and empathetically can make someone feel comfortable to share their thoughts and feelings without fear of judgment. -In a downturn, someone sincerely saying "are you okay?", "do you want to tell me?" as if giving a speck of light in the midst of darkness. The support-- -verbal and non-verbal support provided can be the reason for someone to survive among the chaos of problems.
The bad stigma that still exists in society hinders a person's access to recovery from various mental health problems experienced. -It is important for us to realize the value of mental health and take preventive- -actions so that the stigma can slowly erode. Small actions as simple as listening well can contribute to saving someone's life. By becoming peer counselors, we can give new hope to those who are struggling, and build a more positive and supportive environment for mental health.
Sumber Gambar: Kompasiana- Affiliation
- Universitas Negeri Makassar
- Age
- 16-21
Enable comment auto-refresher
Shiddiq071203
Permalink |
Humanrelations24
Permalink |
Jumardhi18
Permalink |
Ikhsan.ian01
Permalink |
Iswarpatton
Permalink |
Muhalifullah32
Permalink |
Anonymous user #1
Permalink |
Karimannisa0108
Permalink |
Akunuser345
Permalink |
Nurulilmihas
Permalink |
Mr.firmanpranoto
Permalink |
Rahma230703
Permalink |
Anonymous user #1
Permalink |
Anonymous user #1
Permalink |
Yayattlain
Permalink |
Adikakaksendi1992
Permalink |
Purnandans
Permalink |
Farhathzuhair03
Permalink |
Andiseptianasyabatina
Permalink |
Anonymous user #1
Permalink |
Yourmind378
Permalink |
Anggunnrpdl18
Permalink |
Marsyaadel03
Permalink |
Anonymous user #1
Permalink |
Adilahzakiyyahkartini3
Permalink |
Nurikhzan2001
Permalink |
Naufalalgani964
Permalink |
Nuranbiyaai
Permalink |
Nurannisahafid22
Permalink |
Naufalzulfiqh
Permalink |
Andiaura867
Permalink |
Atikatahira23
Permalink |
Zalsabilazeyka
Permalink |
Murniramadani115
Permalink |
Fitrianinur1006
Permalink |
Nurulazikra01
Permalink |
Anonymous user #1
Permalink |
Virgiawanramadhan01
Permalink |
Marangnurhidayat
Permalink |
Karimannisa0108
Permalink |
Ikaliqram
Permalink |
Melisaputriandini6
Permalink |
Hikmahsr99
Permalink |
Rahmatsurianto199
Permalink |
Imeldaimedla
Permalink |
Nadyanurafiifah11
Permalink |
Anaerriy422
Permalink |
Ayus59547
Permalink |
Muhhendrik11
Permalink |
Falbatuul
Permalink |